;

27 Mei 2009

Pengaruh Hutan Terhadap Lingkungan


Hutan juga memberikan pengaruh kepada sumber alam yang lain. Pengaruh ini melalui tiga faktor lingkungan yang saling berhubungan, yaitu iklim, tanah, dan pengadaan air bagi berbagai wilayah, misalnya, wilayah pertanian. Pertanyaan yang menarik menyangkut hubungan sebab- akibat antara iklim dan hutan. Mengapa pertumbuhan pohon di wilayah yang kekurangan hujan sangat kecil?Apakah curah hujan yang kurang, yang menimbulkan kecilnya pertumbuhan pohon itu? Ataukah sebaliknya?

Dari perbandingan keadaan hutan yang sudah ditebang dengan masih utuh dapat disimpulkan, bahwa hutan memang mempunyai pengaruh terhadap keadaan iklim setempat (iklim mikro). Pada hutan yang sudah ditebang curah hujan memang kurang. Ada kesimpulkan keterangan mengenai pengaruh hutan dan belukar terhadap iklim mikro itu sebagai berikut. Pohon-pohon mampu mengurangi kecepatan angin, sehingga akibatnya mengurangi penguapan air (evaporasi) dari tumbuhan yang terlindung olehnya. Kalau tumbuhan itu tanaman pertanian, maka jelas tanaman ini akan memiliki lebih banyak persediaan air, karena penguapannya kurang, sehingga daya tumbuhnya baik. Tentu saja pengaruh hutan terhadap tanaman pertanian ini berlainan antara satu jenis tanaman dengan yang lain; juga berlainan menurut berbagai keadaan dan situasi. Sungguhpun demikian, secara kasar dapat diperkirakan, bahwa hasil panen dapat naik sampai 15% dengan adanya jalur-hijau (pohon-pohonan), meskipun dengan perhitungan, bahwa daerah jalur hijau itu sebetulnya masih dapat digunakan untuk tempat bercocok tanam.

Hutan juga memberikan pengaruh melunakkan iklim. Penebangan hutan menimbulkan amplitude variasi iklim yang lebih besar dari panas ke dingin, dan dari basah ke kering, sehingga menyebabkan daerah itu kurang cocok untuk pertumbuhan tanaman.
Pepohonan hutan juga mempengaruhi struktur tanah dan erosi; jadi, mempunyai pengaruh terhadap pengadaan air di lereng gunung. Ada soerang ahli mengemukakan, bahwa sampah pohon-pohonan dalam hutan mencegah rintikan air hujan untuk langsung jatuh ke permukaan tanah dengan tekanan yang keras. Tanpa sampah, tanah itu akan terpadatkan oleh air hujan, sehingga kurang daya serapnya.

Jadi, kalau hutan di lereng gunung habis ditebang, air hujan akan mengalir deras, membawa partikel tanah permukaan, yang kemudian bercampur menjadi lumpur. Peristiwa ini sekaligus menutup pula pori tanah di permukaan, sehingga pada hujan berikutnya, lebih banyak lagi air yang mengalir di sepanjang lereng, karena makin kurangnya daya serap tanah. Kurangnya kapasitas daya serap air daripada tanah itulah yang dapat mengubah tanah di lereng gunung menjadi daerah yang gersang dan kerdil. Keadaan bisa semakin parah, kalau air yang mengalir dari lereng gunung tanpa rintangan, lalu menimbulkan banjir. Banjir mempunyai daya kekuatan yang besar untuk menghanyutkan lapisan humus pada permukaan tanah pertanian. Ini berarti menghanyutkan bagian terpenting daripada komponen tanah yang menjamin produktivitas biologi tanah pertanian tersebut.

Jadi, singkatnya, hutan sangat penting bagi pertanian, karena: dapat memelihara keutuhan tanah supaya tetap produktif; dapat melunakkan aliran curah hujan ke daerah pertanian; dapat mengurangi kecepatan angin, daya penguapan, perubahan suhu, dan perubahan kelembaban udara relatif.

Dari uraian di atas nampaklah, bahwa penebangan hutan menciptakan suatu ‘lingkaran setan’. Makin banyak pepohonan ditebang, makin besar perubahan ekstrim faktor iklim mikro, sehingga makin sukar bagi sisa vegetasi untuk hidup.

Memang mudah difahami, bahwa vegetasi dengan keadaan iklim mikro membentuk suatu lingkaran yang saling mengumpan balik: vegetasi mempengaruhi iklim, dan sebaliknya iklim mempengaruhi vegetasi. Satu kali vegetasi itu dimusnahkan, perubahan iklim setempatpun diciptakan. Untuk mengembalikannya kepada keadaan vegetasi semula, atau bahkan kepada keadaan vegetasi apapun yang lain, akan menelan biaya terlalu tinggi. Jadi, untuk mempertahankan daerah itu tetap subur dan bermanfaat bagi manusia, tak ada jalan kecuali mengubahnya menjadi daerah pertanian yang memerlukan modal energy banyak. Hal ini jelas mendukung kebenaran asas 13, yang menyatakan pula, bahwa mengurangi keanekaragaman tumbuhan tidak saja mengurangi kemantapan komunitas, tetapi juga mengurangi kemantapan factor lingkungan fisiknya.

Dari sedikit informasi yang saya angkat tersebut semoga dapat sedikit membuat kita sadar pentingnya hutan bagi kelangsungan hidup kita mendatang.
Ada lanjutannya lho…..

0 komentar:

Posting Komentar

 

Mengenal Kayu is Designed by productive dreams for smashing magazine Bloggerized by Ipiet © 2008