;

26 September 2009

BAHAN PENGAWET


Bahan pengawet kayu ialah bahan-bahan kimia yang telah diketemukan dan sangat beracun terhadap makhluk perusak kayu, antara lain: arsen(As), tembaga(Cu), seng(Zn), fluor(F), chroom(Cr), dan lain-lain. Tidak semua bahan pengawet akan baik digunakan dalam pengawetan kayu. Dalam penggunaan harus diperhatikan, sifat-sifat bahan pengawet agar sesuai dengan tujuan pemakaian. Faktor-faktor sebagai syarat bahan pengawet yang baik:

  • Bersifat racun terhadap makhluk perusak kayu.
  • Mudah masuk dan tetap tinggal di dalam kayu.
  • Bersifat permanent tidak mudah luntur atau menguap.
  • Bersifat toleran terhadap bahan-bahan lain, misalnya: logam, perekat, dan cat/finishing.
  • Tidak mempengaruhi kembang susut kayu.
  • Tidak merusak sifat-sifat kayu: sifat fisik, mekanik, dan kimia.
  • Tidak mudah terbakar maupun mempertinggi bahaya kebakaran.
  • Tidak berbahaya bagi manusia dan hewan peliharaan.
  • Mudah dikerjakan, diangkut, serta mudah didapat, dan murah.

Tentunya tidak semua sifat-sifat di atas dimiliki oleh sesuatu jenis bahan pengawet. Dalam praktek biasanya diperhatikan sifat-sifat mana yang perlu tergantung pada tujuan pemakaian kayu itu nantinya. Pada waktu memilih bahan pengawet kayu harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut

  • Di mana kayu itu akan dipakai setelah diawetkan.
  • Makhluk perusak kayu apa yang terdapat di tempat tersebut.
  • Syarat-syarat kesehatan.

Pada kayu yang akan digunakan di tempat yang lembab dengan resiko serangan perusak kayu yang hebat, perlu diambil bahan pengawet yang tidak mudah luntur dan cukup beracun bagi jamur. Bagi kayu untuk bangunan di bawah atap, perlu adanya bahan pengawet yang tidak mengganggu kesehatan manusia, tidak mempengaruhi cat, politur, dan lain-lain. Untuk kayu yang dipakai di luar ruangan, digunakan tipe bahan pengawet larut air tapi tidak mudah mengubah warna kayu tersebut. Bahan pengawet yang mengandung garam arsen umumnya digenakan untuk serangan serangga yang hebat. Kayu yang akan digunakan di tempat yang berhubungan dengan air laut umumnya diawetkan dengan penggunaan tipe CCA (tembaga-chroom-arsen) atau dengan creosot, carbolineum, yang memiliki kadar racun yang tinggi.


Macam-macam bahan pengawet kayu menurut bahan pelarut yang digunakan:

  1. Bahan pengawet yang larut dalam air, menggunakan air biasa sebagai bahan pengencer.
  2. Bahan pengawet yang larut dalam minyak, menggunakan minyak sebagai bahan pengencer.
  3. Bahan pengawet yang berupa minyak, tapi masih dapat diencerkan dengan bermacam-macam minyak.
1. Bahan pengawet larut air:

Tipe bahan pengawet ini memiliki sifat-sifat umum sebagai berikut:

  • Dijual dalam perdagangan berbentuk garam, larutan pekat, dan tepung.
  • Tidak mengotori kayu.
  • Kayu yang sudah diawetkan masih dapat di-finishing (politur atau cat) setelah kayu tersebut dikeringkan terlebih dahulu.
  • Penetrasi dan retensi bahan pengawet cukup tinggi masuk ke dalam kayu.
  • Mudah luntur.

Jenis ini baik digunakan untuk mengawetkan kayu yang akan digunakan di dalam rumah (perabot, dan lain-lain) yang umumnya terletak di bawah atap. Dianjurkan, setelah kayu perabot tersebut diawetkan dan dikeringkan, selanjutnya di-finishing. Gunanya untuk menutup permukaan kayu agar bahan pengawet tidak terpengaruh oleh udara lembab, sebab kayu cenderung untuk membasah (sifat higroskopis). Nama-nama bahan pengawet dalam perdagangan antara lain: Tanalith C, Celcure, Boliden, Greensalt, Superwolman C, Borax, Asam Borat, dan lain-lain. Konsentrasi larutan dapat berbeda-beda tergantung tujuan pemakaian kayu setelah diawetkan (rata-rata 5-10%).

2. Bahan pengawet larut minyak:

Sifat-sifat umum yang dimiliki sebagai berikut:

  • Dijual dalam perdagangan berbentuk cairan agak pekat, bubuk (tepung). Pada waktu akan digunakan, dilarutkan lebih dahulu dalam pelarut-pelarut antara lain: solar, minyak disel, residu, dan lain-lain.
  • Bersifat menolak air, daya pelunturannya rendah, sebab minyak tidak dapat bertoleransi dengan air.
  • Daya cegah terhadap makhluk perusak kayu cukup baik.
  • Memiliki bau tidak enak dan dapat merangsang kulit (alergis).
  • Warnanya gelap dan kayu yang diawetkan menjadi kotor.
  • Sulit di-finishing karena lapisan minyak yang pekat pada permukaan kayu.
  • Penetrasi dan retensi agak kurang, disebabkan tidak adanya toleransi antara minyak dan kandungan air pada kayu.
  • Mudah terbakar.
  • Tidak mudah luntur.
Nama-nama perdagangan bahan pengawet larut minyak antara lain: PCP (Pentha Chlor Phenol), Rentokil, Cu-Napthenate, Tributyltin-oxide, Dowicide, Restol, Anticelbor, Cuprinol, Solignum, Xylamon, Brunophen, Pendrex, Dieldrien, dan Aldrin.

3. Bahan pengawet berupa minyak:

Sifat-sifat yang dimiliki oleh bahan pengawet berupa minyak sama dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh bahan pengawet larut minyak. Penggunaannya diusahakan dijauhkan dari hubungan manusia, karena baunya tidak enak dan mengotori tempat. Penggunaannya dengan metode tertentu. Nama-nama perdagangan yang terkenal antara lain: Creosot, Carbolineum, Napthaline, dan lain-lain. Umumnya penggunaan bahan pengawet larut minyak dan berupa minyak tidak begitu luas dalam penggunaan, orang lebih cenderung menggunakan bahan pengawet yang lain dalam arti mudah dan praktis.

Yang lainnya ditunggu ya.....

1 komentar:

download gratis on 29 September, 2009 21:54 mengatakan...

download gratis Baca-baca dan berkunjung ke blog teman.

Poskan Komentar

 

Mengenal Kayu is Designed by productive dreams for smashing magazine Bloggerized by Ipiet © 2008