;

30 Mei 2009

Kayu Dan Manusia


Manusia adalah makluk Allah yang diberikan Drajat paling tinggi diantara mahluk-mahluk-Nya yang lain. Tapi dalam menjalani hidupnya meski dengan segala kelebihannya, manusia tetap membutuhkan suatu pendukung ataupun penunjang. Besi, plastic, kayu dll adalah beberapa bahan penunjang kehidupan kita di dunia ini. Besi, tapi yang saya akan ungkap dan bahas lebih lanjut adalah kayu, ya itupun karena bidangku emang kayu sih hehe..

Kita sadari atau tidak kehidupan manusia tidak akan bisa dipisahkan dari benda yang bernama kayu, apa itu kayu? Ya tunggu di postinganku kemudian ya..sementara ini kita bahas dulu sedikit apa hubungan kayu dan manusia itu sendiri.

Mulai lahir kita sudah ada diatas ranjang, kita makan diatas meja makan, kita duduk diatas kursi, kita menaruh pakaian di dalam almari, kita tinggal dirumah, apa bahannya? Memang mayoritas bahan-bahan dari apa yang ada disekitar kita adalah kayu. Bahkan sejak jaman dahulu kala, nenek moyang kita mulai memasak, menghangatkan diri ya kayu yang mereka gunakan untuk bahan bakarnya. Sejak awalnya ditemukan kereta api untuk alat transportasi kita, apa bahan bakarnya? Tetap kata kayu jawabnya.

Dari beberapa contoh kasus diatas dapat disimpulkan bahwa hubungan manusia dan kayu sangat erat dan mungkin hubungan itu adalah hubungan yang tidak akan pernah dapat dipisahkan, kecuali kayu sudah habis di bumi ini. Makanya pelihara hutan, hindari illegal logging itu jangan kita anggap hanya sekedar berita ringan, tapi hal itu adalah sesuatu yang benar-benar harus kita dalami makna apa yang terkandung didalamnya. Meskipun pada kenyataannya banyak para penggede pemerintahan kita sendiri yang sebenarnya justru merusak lingkungan, baik langsung maupun tidak langsung.

Dengan sedikit tulisan ini semoga bisa sedikit “menyentil” hati kita semua agar lebih peduli terhadap lingkungan dan hutan disekitar kita agar stock kayu didunia ini dapat selalu menunjang kehidupan kita sampai Hari Kiamat datang. Dan kusus para penggede pemerintahan please… jangan sekedar cari uang saja, pikirkan nasib anak cucu kita dong….Ok?

Ada lanjutannya lho…..

27 Mei 2009

Pengaruh Hutan Terhadap Lingkungan


Hutan juga memberikan pengaruh kepada sumber alam yang lain. Pengaruh ini melalui tiga faktor lingkungan yang saling berhubungan, yaitu iklim, tanah, dan pengadaan air bagi berbagai wilayah, misalnya, wilayah pertanian. Pertanyaan yang menarik menyangkut hubungan sebab- akibat antara iklim dan hutan. Mengapa pertumbuhan pohon di wilayah yang kekurangan hujan sangat kecil?Apakah curah hujan yang kurang, yang menimbulkan kecilnya pertumbuhan pohon itu? Ataukah sebaliknya?

Dari perbandingan keadaan hutan yang sudah ditebang dengan masih utuh dapat disimpulkan, bahwa hutan memang mempunyai pengaruh terhadap keadaan iklim setempat (iklim mikro). Pada hutan yang sudah ditebang curah hujan memang kurang. Ada kesimpulkan keterangan mengenai pengaruh hutan dan belukar terhadap iklim mikro itu sebagai berikut. Pohon-pohon mampu mengurangi kecepatan angin, sehingga akibatnya mengurangi penguapan air (evaporasi) dari tumbuhan yang terlindung olehnya. Kalau tumbuhan itu tanaman pertanian, maka jelas tanaman ini akan memiliki lebih banyak persediaan air, karena penguapannya kurang, sehingga daya tumbuhnya baik. Tentu saja pengaruh hutan terhadap tanaman pertanian ini berlainan antara satu jenis tanaman dengan yang lain; juga berlainan menurut berbagai keadaan dan situasi. Sungguhpun demikian, secara kasar dapat diperkirakan, bahwa hasil panen dapat naik sampai 15% dengan adanya jalur-hijau (pohon-pohonan), meskipun dengan perhitungan, bahwa daerah jalur hijau itu sebetulnya masih dapat digunakan untuk tempat bercocok tanam.

Hutan juga memberikan pengaruh melunakkan iklim. Penebangan hutan menimbulkan amplitude variasi iklim yang lebih besar dari panas ke dingin, dan dari basah ke kering, sehingga menyebabkan daerah itu kurang cocok untuk pertumbuhan tanaman.
Pepohonan hutan juga mempengaruhi struktur tanah dan erosi; jadi, mempunyai pengaruh terhadap pengadaan air di lereng gunung. Ada soerang ahli mengemukakan, bahwa sampah pohon-pohonan dalam hutan mencegah rintikan air hujan untuk langsung jatuh ke permukaan tanah dengan tekanan yang keras. Tanpa sampah, tanah itu akan terpadatkan oleh air hujan, sehingga kurang daya serapnya.

Jadi, kalau hutan di lereng gunung habis ditebang, air hujan akan mengalir deras, membawa partikel tanah permukaan, yang kemudian bercampur menjadi lumpur. Peristiwa ini sekaligus menutup pula pori tanah di permukaan, sehingga pada hujan berikutnya, lebih banyak lagi air yang mengalir di sepanjang lereng, karena makin kurangnya daya serap tanah. Kurangnya kapasitas daya serap air daripada tanah itulah yang dapat mengubah tanah di lereng gunung menjadi daerah yang gersang dan kerdil. Keadaan bisa semakin parah, kalau air yang mengalir dari lereng gunung tanpa rintangan, lalu menimbulkan banjir. Banjir mempunyai daya kekuatan yang besar untuk menghanyutkan lapisan humus pada permukaan tanah pertanian. Ini berarti menghanyutkan bagian terpenting daripada komponen tanah yang menjamin produktivitas biologi tanah pertanian tersebut.

Jadi, singkatnya, hutan sangat penting bagi pertanian, karena: dapat memelihara keutuhan tanah supaya tetap produktif; dapat melunakkan aliran curah hujan ke daerah pertanian; dapat mengurangi kecepatan angin, daya penguapan, perubahan suhu, dan perubahan kelembaban udara relatif.

Dari uraian di atas nampaklah, bahwa penebangan hutan menciptakan suatu ‘lingkaran setan’. Makin banyak pepohonan ditebang, makin besar perubahan ekstrim faktor iklim mikro, sehingga makin sukar bagi sisa vegetasi untuk hidup.

Memang mudah difahami, bahwa vegetasi dengan keadaan iklim mikro membentuk suatu lingkaran yang saling mengumpan balik: vegetasi mempengaruhi iklim, dan sebaliknya iklim mempengaruhi vegetasi. Satu kali vegetasi itu dimusnahkan, perubahan iklim setempatpun diciptakan. Untuk mengembalikannya kepada keadaan vegetasi semula, atau bahkan kepada keadaan vegetasi apapun yang lain, akan menelan biaya terlalu tinggi. Jadi, untuk mempertahankan daerah itu tetap subur dan bermanfaat bagi manusia, tak ada jalan kecuali mengubahnya menjadi daerah pertanian yang memerlukan modal energy banyak. Hal ini jelas mendukung kebenaran asas 13, yang menyatakan pula, bahwa mengurangi keanekaragaman tumbuhan tidak saja mengurangi kemantapan komunitas, tetapi juga mengurangi kemantapan factor lingkungan fisiknya.

Dari sedikit informasi yang saya angkat tersebut semoga dapat sedikit membuat kita sadar pentingnya hutan bagi kelangsungan hidup kita mendatang.
Ada lanjutannya lho…..

24 Mei 2009

Penjual Kayu Jati Belajar Nge-Blog


Nge-Blog, Blogger, Blogspot… apaan tuh? Kata-kata yang sebelumnya sangat asing bagiku, akhir-akhir ini menjadi kata-kata yang sangat sering aku dengar melebihi berita pemilu. Saking seringnya, sampe-sampe aku nekat beli laptop (walaupun hasil ngutang sih) dan pingin belajar bikin blog. Dengan harapan suatu saat aku bisa menjadi seorang Blogger Sejati, meskipun aku sendiri gak tau apa artinya Blogger Sejati. Hehe..

Sebelumnya aku mau memperkenalkan diri, namaku Novianto Joko Prasetyo, teman – teman biasa panggil aku Antok…

Aku lahir dari keluarga yang berasal dari desa terpencil di daerah Jawa Timur jauh dari jangkauan teknologi, ya..bisa dibilang keluarga “katrok” n “gaptek” lagi hehe…Setelah lulus kuliah dari salah satu universitas swasta di Malang (meski dari keluarga katrok n gaptek aku kuliah juga lho…tapi lulus dengan IPK yang agak minim sih hehe), aku kerja pindah2 dari satu perusahaan ke perusahaan lain tapi yang jelas dari semua perusahaan itu posisiku gak pernah berubah, ya tau sendiri ngelamar jadi bos kan gak mungkin, ya jadi Sales gak papa lah buat pengalaman… Kan kata orang tua kita “Pengalaman adalah guru yang paling baik buat hidup kita” tapi bener gak sih? Hehe

Pada pertengahan tahun 2005 setelah keluar dari salah satu perusahaan otomotif di Malang, disela – sela pusingnya kepala akibat berubahnya status-ku menjadi pengangguran tiba2 ada angin segar keluar dari bapak-ku, beliau sekitar 20 tahun yang lalu kan menanam kayu jati, tapi itulah rahasia Illahi disaat aku jadi pengangguran kok pas pohon jati punya bapak-ku waktunya panen hehe…ya tau sendiri lah gimana lanjutannya.

Mulai aku tebang pohon jati itu satu demi satu (kayak puisi ya hehe) terus aku mulai belajar ngurus surat menyurat ya tau sendiri kan lagi marak2nya Ilegal Logging dan lagian aku kan paling tertib ma aturan hehe

Kemudian dengan bekal pengalaman jadi sales di beberapa perusahaan aku mulai jual kayu – kayu bapak-ku, dengan uang fee yang diberikan dari hasil penjualan itu dan meski awalnya agak pesimis setelah satu tahun akhirnya habis juga kayu jati itu.

Setelah itu aku bingung lagi apa yang harus aku lakukan? tapi pikir-dipikir sayang juga link yang sudah aku rintis selama setahun itu, akhirnya aku putuskan untuk melanjutkan perjuanganku di kancah dunia perkayuan. Bermodal nekad dan uang sisa – sisa perjuangan yang lama akhirnya meski sempat tersendat – sendat akhirnya aku bikin Usaha Dagang (UD) yang harapanku bisa mendukung kerjaanku dan bisa buat usahaku lebih maju. Dan Alhamdulillah mulai berjalan juga usahaku itu, yang awalnya aku hanya pengecer kayu jati kelas teri di malang, sekarang aku tetep kelas teri sih hehe tapi pasarku untuk kayu jati udah mulai sedikit melebar sampai luar kota bahkan luar profinsi sampai luar pulau..

Dan dengan informasi yang minim tentang dunia Blog dari blogger yang kebetulan dia sahabat lama, aku tertarik untuk masuk ke dunia yang menurutnya bisa menambah wawasan, kenalan, dan pada tingkat tertentu bisa buat cari duit (kan itu yang paling penting hehe).

Dengan ini pada hari Sabtu Legi tanggal 23 Mei 2009 dengan mengucap Bismillah dan dengan semangat 45 saya nyatakan diri saya siap untuk menjadi seorang BLOGGER…. MERDEKA….

Sumber materi yang aku ulas diblog ini aku ambil dari buku dengan judul Mengenal Kayu 
oleh J. F. Dumanauw

 

Mengenal Kayu is Designed by productive dreams for smashing magazine Bloggerized by Ipiet © 2008